Pemuda?

Yang baru beranjak ‘sudah’ dewasa?

Kata orang ‘sih’ iya.

Kalau kata mereka? Apa?

 

Teknologi?

Karya akbar manusia zaman ini.

Kata orang ‘sih’ meringankan beban pribadi.

Mempermudah pekerjaan di tiap-tiap sisi.

Pemuda dan Teknologi?

Apa lagi?

Mendekatkan yang jauh.

Menjauhkan yang dekat.

 

Katanya mempermudah.

Kok jadi susah?

Jadi bahan alasanlah.

Ah sudahlah.

 

Pemuda dulu dan sekarang sudah berbeda.

Dulu hidung dan kepala mereka tampak dan ada.

Sumber suara dari kalimat yang tersiar, nyata.

Jiwa dan raga mereka hadir di dunia nyata.

 

Sekarang?

Suaranya saja cuman di layar.

Yang frontal dan berani ada hanya beberapa.

Yang lain? Sembunyi dibalik selimut.

 

Pemuda sekarang sudah cerdas dan pintar.

Berpindah-pindah opini karena segelintir kalimat.

Mudah percaya dengan hasil tombol “bagikan”

Bisa masuk surga karena “Like, Comment, dan Share

Atau malah jadi musuh dan masuk neraka karena acuh.

 

Setidaknya pemuda sekarang sudah kritis.

Kritis terhadap kebijakan-kebijakan yang menimpanya.

Kritis terhadap perubahan dan keadaan disekitarnya.

Kritis pula terhadap kantong yang menyertainya.

 

Pemuda dulu aktif dan memegang prinsip.

Tak gentar diserang kanan dan kiri.

Baru patah setelah ada fakta dan bukti nyata.

Bahkan ada yang lebih kreatif dan inovatif.

 

Tapi, sudahlah.

Berharap yang berubah itu jadi indah.

Memberikan rahmat dan berkah.

Untuk negeriku yang tercinta

 

Oleh : AHMAD AINUN NAJIB (2415100121)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *