Pernahkan anda menghitung berapa jumlah mahasiswa di ITS yang jika sedang duduk-duduk, entah di taman, di kantin, di Masjid Manarul, memegang buku di tangannya? Atau jika terlalu susah, pernahkah anda melihat satu saja mahasiswa ITS yang sedang duduk membawa sebuah buku untuk dibaca. Apakah anda pernah menemukannya? Jika iya, selamat anda menemukan barang langka!

Menemukan mahasiswa yang suka membaca di ITS ternyata lebih susah daripada menemukan pokemon yang sering berkeliaran di jalan depan Jurusan Kimia FMIPA hingga Masjid Manarul Ilmi. Lucu sebenarnya. Kaum intelektual yang menjadi harapan bangsa ini relatif rendah minat bacanya. Sebenarnya saya berharap dugaan saya salah dan segera ada yang membantah, semoga. Barangkali mahasiswa yang di kampus tidak pernah membaca ternyata di kamar kosnya penuh tumpukan buku yang semuanya sudah terbaca. Yaa saya hanya bisa positive thinking.

Mari kita tengok perpustakaan ITS. Perpustakaan dengan fasilitas yang woow bagusnya. Jika pernah masuk ke dalamnya, cobalah tengok seberapa banyak kita temukan mahasiswa yang sedang duduk sambil menikmati buku di depannya. Entah saya punya standar sendiri atau seperti apa, saya melihatnya terlalu sedikit untuk ukuran kampus ITS yang isinya orang-orang terbaik ini. Hmmm, tetapi sekali lagi semoga saya salah. Barangkali ketika saya ke perpustakaan pengunjungnya memang baru sedikit, mungkin saja waktu saya keluar meja-meja di lantai 5 langsung dipenuhi mahasiswa yang sedang asyik di dunia kata-kata. Membaca buku sambil pikirannya terbang menembus batas cakrawala dunia.

Mungkin bahasan di atas terlalu susah dan tidak menarik. Coba kita hitung hal lain, misal mahasiswa yang sedang menghadap netbook atau smartphone saat sedang duduk-duduk. Bahasan ini sepertinya akan lebih nyambung karena memang itulah yang banyak dijumpai di lingkungan kampus kita. Bahkan menemukan hal ini lebih mudah daripada menemukan pokemon.

Bukan menjadi masalah jika yang sedang dipandang di depan netbook atau smartphone-nya adalah e-book atau berita-berita yang sedang berkembang. Toh itu tetap disebut membaca. Atau sedang asyik ria dengan tugas dosennya yang selalu meminta untuk diselesaikan terlebih dahulu. Itu pun tak masalah, karena ujung-ujungnya tetap tolabul ‘ilmi. Yang jadi soal adalah jika menghadap netbook atau smartphone, yang dibaca ya kalau tidak status facebook, instagram, grup Line atau WhatsApp. Update informasi memang penting, namun update wawasan dan ilmu pengetahuan juga penting kan?

Teknologi mungkin mengambil peran penting dalam kasus ini. Segala hal sudah menjadi digital. Informasi menjadi lebih instan dan cepat. Berpengaruh juga kepada karakteristik konsumen yang menginginkan informasi yang cepat. Akibatnya mahasiswa menjadi kurang tertarik dengan dunia literasi. Bisa jadi ketika disodori buku bacaan seketika langsung muntah tiada henti. Bacaan yang banyak tulisannya sudah tidak menjadi primadona lagi. Popularitasnya kalah dengan status Facebook atau ‘Draft ITS’ yang pendek-pendek dan asyik.

Padahal pemuda zaman dahulu banyak menggunakan media tulisan dalam membentuk semangat kemerdekaan. Pikiran mereka begitu kritis dalam menghadapi pemikiran-pemikiran kaum penjajah yang merendahkan karakter bangsa. Misal Syafruddin Prawiranegara yang menulis “Een Holandsche Kwajongen, yang kurang lebih artinya “Begajul Belanda”, di Majalah USI (Unitas Studiosorum Indoneesiensis / Perhimpunan Mahasiswa Indonesia). Waktu itu Syafruddin memprotes pernyataan Profesor Eggens, yang menyatakan bahwa Bahasa Indonesia (yang waktu itu disebut sebagai Bahasa Melayu) merupakan bahasa primitif yang tidak mungkin menjadi bahasa ilmu. Syafruddin mengatakan bahwa pernyataan tersebut tidak layak diucapkan oleh seorang profesor, terlebih yang belum mendalami bahasa Indonesia.

Pendapat semacam ini tidak akan mungkin keluar dari seseorang yang rendah ilmunya. Sifat kritis semacam tadi hanya bisa diperoleh dengan sering membaca dan berdiskusi. Perlu proses yang berkelanjutan untuk menumbuhkan hal ini.

Teknologi informasi yang semakin maju seharusnya menjadikan mahasiswa lebih giat lagi dalam membaca dan mencari ilmu. Terlalu banyak sudah kita dimudahkan dengan adanya e-book, artikel, opini, dan berbagai macam tulisan berkualitas yang tercecer di dunia maya. Tinggal ketik dan klik, semua bisa didapat. Yang perlu disiapkan hanyalah niat!

Akhir kata, menjadi bangsa yang maju tidak hanya diukur dari jumlah mahasiswa jomblo yang sering menatap netbook untuk bermain DotA atau Instagram-an di depan smartphone. Perlu kita meningkatkan kualitas jomblo dengan banyak membaca dan menuntut ilmu. Renaissance di zaman Eropa pun terjadi karena masyarakatnya mulai tertarik membaca dan menerjemahkan karya dari Dunia Timur Tengah kala itu. Hingga kita lihat peradaban mereka menguasai dunia. So, jika masih memimpikan kemajuan teknologi dan sains seperti di dunia Barat sana, kuy membaca.

 

Muhammad Richa Saputra -(2413100026)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *